Panggung Dunia dan Nasional, Karya Seni Maestro Tibubeneng I Ketut Putrayasa Pukau Turki hingga Ajang Red Bull Cliff Diving
TIBUBENENG – Nama dunia rupa Bali kembali harum di kancah global berkat torehan prestasi gemilang dari I Ketut Putrayasa, seniman patung terkemuka asal Desa Tibubeneng, Kuta Utara, Badung. Dalam waktu yang berdekatan, sang maestro tidak hanya sukses menembus pasar akademis di Eropa-Asia, tetapi juga berhasil mencuri perhatian dunia lewat instalasi seni raksasa di salah satu ajang olahraga ekstrem paling bergengsi di dunia.
1. Hadirkan Tradisi Anyaman Logam Jadi Ikon Kampus di Turki
Pencapaian pertama diraih setelah I Ketut Putrayasa dipercaya oleh Bahçeşehir University (BAU), sebuah universitas swasta ternama di Istanbul, Turki, untuk menciptakan empat buah patung ikonik yang kini resmi menghiasi kawasan kampus tersebut.
Proses pemesanan ini berawal dari ketertarikan tim Turkey International setelah melihat karya patung bertajuk "Anak Elang" besutan Putrayasa di media sosial. Terpikat oleh detailnya, perwakilan universitas tersebut bahkan terbang langsung ke Jakarta untuk mengonfirmasi kerja sama.
Dalam karya tiga dimensi tersebut, Putrayasa membawa teknik kontemporer berbasis tradisi anyaman logam. Menggunakan filosofi anyaman yang melambangkan fleksibilitas, kebersamaan (unity), dan ketangguhan (resilience), karya ini sekaligus menjadi jembatan diplomasi budaya yang mempererat hubungan sejarah antara Indonesia dan Turki.
2. Persona Estetis "The Octopus Queen" di Red Bull Cliff Diving Nusa Penida
Tak hanya berjaya di luar negeri, karya monumental Putrayasa juga menjadi sorotan utama dalam perhelatan internasional Red Bull Cliff Diving yang digelar di Broken Beach, Nusa Penida, Klungkung, pada 22–23 Mei 2026.
Patung raksasa bertajuk "The Octopus Queen" (Ratu Gurita) garapannya sukses memukau para peserta, pasang mata penonton dunia, hingga jajaran penyelenggara internasional. Berdiri megah dengan latar tebing karst dan deburan ombak ekstrem Nusa Penida, patung ini menjadi ikon baru pariwisata sekaligus latar eksotis yang memperkuat estetika visual kompetisi olahraga dunia tersebut.
Ajang olahraga kelas dunia ini juga tetap berjalan harmonis dengan kearifan lokal berkat ritual persembahyangan bersama masyarakat adat sebelum dimulai. Ketut Putrayasa mengaku sangat bersyukur atas apresiasi luas yang diberikan terhadap "The Octopus Queen", yang dinilai mampu menyatukan kemegahan alam Nusa Penida dengan kekuatan seni budaya Bali.
Kebanggaan dan Inspirasi Kreatif Desa Tibubeneng
Rentetan prestasi yang diukir oleh I Ketut Putrayasa ini membuktikan bahwa kreativitas berbasis tradisi lokal milik seniman Desa Tibubeneng memiliki daya saing yang sangat tinggi di panggung internasional.
Pemerintah Desa beserta seluruh masyarakat Tibubeneng memberikan apresiasi dan rasa bangga yang setinggi-tingginya. Karya-karya Putrayasa diharapkan dapat menjadi inspirasi besar bagi generasi muda di desa untuk terus menggali potensi seni kontemporer tanpa kehilangan akar budaya nusantara.
Kirim Komentar
Komentar baru terbit setelah disetujui Admin